Latest Posts

Minggu, 12 Juni 2016

RANGKUMAN MATERI PENATARAN KURIKULUM 2013

Tidak ada komentar:
Perubahan kurikulum 2013 pada tahun 2016 memiliki pokok bagian penting yang harus rekan guru cermati pada tahun 2016 ini, Inilah hasil pelatihan kurikulum 2013 berbagai point perubahan kompetensi yang berubah.
Info pelatihan K-13:


Ini adalah hasil pelatihan kepada guru sasaran kurikulum 2013:
  1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional tp tetap Kurikulum 2013 Edisi revisi yang berlaku secara Nasional.
  2. Penilaian sikap KI 1 & KI 2 sdh ditiadakan di setiap mata pelajaran hanya agama dan ppkn namun Ki tetap dicantumkankan dlm penulisan RPP.
  3. Jika ada 2 nilai praktik dalam 1 kd, maka yg diambil adl nilai yg tertinggi. Penghitungan nilai keterampilan dalam 1 kd ditotal (praktik, produk, portofolio) dan diambil nilai rata2. untuk pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama.
  4. Pendekatan scientific 5M bukan lah satu2 nya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunan nya tidak harus berurutan
  5. Silabus kurtilas edisi revisi lebih ramping hanya 3 kolom yaitu KD, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran
  6. Perubahan terminologi ulangan harian menjadi penilaian harian, uas menjadi penilaian akhir semester utk semester 1 dan penilaian akhir tahun utk semester 2. Dan sudah tdk ada lagi uts langsung ke penilaian akhir semester.
  7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada).
  8. Skala penilaian menjadi 1-100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi.
  9. Remedial diberikan untuk yg kurang namun sebelumnya siswa diberikan pembelajaran ulang. Nilai Remed inial adalah nilai yg dicantumkan dalam hasil.
Salah satu hasil Bimtek Kurikulum 2013 revisi yg akan diberlakukan tahun pelajaran baru, Kelengkapan yg seharusnya dimiliki guru adalah BUKU KERJA GURU:

A. BUKU KERJA 1 :
  1. SKL, KI, dan KD
  2. Silabus
  3. RPP
  4. KKM
B. BUKU KERJA 2 :
  1. Kode Etik Guru
  2. Ikrar Guru
  3. Tata Tertib Guru
  4. Pembiasaan Guru
  5. Kalender Pendidikan
  6. Alokasi Waktu
  7. Program Tahunan
  8. Program Semester
  9. Jurnal Agenda Guru
C. BUKU KERJA 3 :
  1. Daftar Hadir
  2. Daftar Nilai
  3. Penilaian Akhlak/Kepr
  4. Analisis Hasil Ulgn
  5. Progpel Perb & Pengy
  6. Dafbuk Peg Guru/Sis
  7. Jadwal Mengajar
  8. Daya Serap Siswa
  9. Kumpulan Kisi soal
  10. Kumpulan Soal
  11. Analisis Butir Soal
  12. Perbaikan Soal
D. BUKU KERJA 4 :
  1. Daftar Evaluasi Diri Kerja Guru
  2. Program Tindak Lanjut Kerja Guru
PENILAIAN KELAS OLEH PENDIDIK
Tujuan penilaian di kelas diarahkan pada:

  • Keeping-track (proses pembelajaran sesuai dengan rencana)
  • Cheking-up (mencek kelemahan dalam proses pembelajaran)
  • Finding-out (menemukan kelemahan & kesalahan dalam pembelajaran)
  • Summing-up (menyimpulkan pencapaian kompetensi peserta didik)
Fungsi penilaian kelas:
  • Sebagai alat meningkatkan motivasi 
  • Sebagai alat mewujudkan belajar tuntas 
  • Sebagai indikator efektivitas proses pembelajaran 
  • Sebagai unpan balik untuk memperbaiki & meningkatkan efektivitas proses pembelajaran 
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik
Fungsi formatif dan sumatif : untuk memantau kemajuan belajar, mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan, dan memantau hasil belajar.
Tujuan untuk:
  1. mengetahui tingkat penguasaan kompetensi;
  2. menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi;
  3. menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi; dan
  4. memperbaiki proses pembelajaran. 
Prinsip-Prinsip Penilaian
  1. sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur; 
  2. objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai; 
  3. adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender; 
  4. terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran; 
  5. terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan; 
  6. menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik; 
  7. sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku; 
  8. beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan; dan 
  9. akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.Lingkup  dan Instrumen Penilaian Hasil Belajar
Lingkup:
  1. Lingkup Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik mencakup aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. 
  2. Lingkup Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan mencakup aspek pengetahuan dan aspek keterampilan. 
  3. Instrumen 
  4. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik menggunakan berbagai instrumen penilaian berupa tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. 
  5. Instrumen penilaian yang digunakan oleh Satuan Pendidikan dalam bentuk Penilaian Akhir dan/atau Ujian Sekolah/Madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa serta memiliki bukti validitas empirik.
  6. Mekanisme Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik 
  7. perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus; 
  8. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan pengukuran pencapaian satu atau lebih Kompetensi Dasar; 
  9. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan sebagai sumber informasi utama dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali kelas atau guru kelas; 
  10. hasil penilaian pencapaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat atau deskripsi; 
  11. penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai; 
  12. penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai; 
  13. hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi; dan 
  14. peserta didik yang belum mencapai KKM harus
  1. mengikuti pembelajaran remedi.
 Mekanisme Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan
  1. menyusun perencanaan penilaian tingkat Satuan Pendidikan;
  2. KKM yang harus dicapai oleh peserta didik ditetapkan oleh Satuan Pendidikan;
  3. penilaian dilakukan dalam bentuk Penilaian Akhir dan Ujian Sekolah/Madrasah;
  4. Penilaian Akhir meliputi Penilaian Akhir semester dan Penilaian Akhir tahun;
  5. hasil penilaian sikap dilaporkan dalam bentuk predikat dan/atau deskripsi;
  6. hasil penilaian pengetahuan dan keterampilan dilaporkan dalam bentuk nilai, predikat dan deskripsi pencapaian kompetensi mata pelajaran;
  7. laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir semester, dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan guru berdasar hasil penilaian oleh pendidik dan hasil penilaian oleh Satuan Pendidikan; dan
  8. kenaikan kelas dan/atau kelulusan peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru.
SKEMA PENILAIAN SIKAP



SKEMA PENGOLAHAN PENILAIAN SIKAP



SKEMA DESKRIPSI PENILAIAN SIKAP
Discovery/Inquiry Learning
Karakteristik pembelajaran: peserta didik secara aktif menemukan ide dan mendapatkan makna

Komponen
KOMPONEN DAN REDAKSIONAL SILABUS
¨  Komponen silabus adalah sebagai berikut:
¡  Identitas : Nama Sekolah, Tema, Subtema/Mapel,  Kelas, Tahun Pelajaran
¡  Komptensi Inti
¡  Kompetensi Dasar
¡  Indikator Hasil Belajar
¡  Materi Pembelajaran
¡  Kegiatan Pembelajaran
¡  Waktu tatap muka/alokasi waktu
¡  Character Building/Sikap

TEMA, BIDANG STUDI, TEMATIK STUDI
¨  Tema adalah materi pembelajaran yang luas dan bebas, baik berupa tema lepas atau mengandung aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan atau kompetensi.
¡  Contoh tema lepas: Tanaman, Aku, Keluarga, Transportasi, Rekreasi, Air, Ikan, Udara, dan lain-lain.
¡  Contoh tema kompetensi: Membaca, menulis, membuat topi dari kertas Koran, membuat kopi, mewarnai obyek gambar, bercerita, dan lain-lain.
¡  Biasanya tema dipakai pada jenjang pendidikan TK ke bawah.
¡  Tema harus urut berdasarkan kebutuhan siswa, jenjang kompetensi knowledge (tingkat kesukaran)

KOMPETENSI DASAR
¨  Contoh kompetensi dasar:
¡  Tema: Hewan
ú   Kemampuan mengetahui  hewan yang dapat terbang dan tidak dapat terbang.
¨   Bidang studi: Matematika
ú   Kemampuan mengenal  makna angka
ú   Kemampuan memahami  operasi hitung penjumlahan.
¨   Bidang studi: IPA

HASIL BELAJAR
¨  Pernyataan minimal tentang hasil dan tujuan dari kompetensi yang sudah ditentukan.
¨  Biasanya memakai kalimat pernyataan, dengan lebih fokus pada dua hal, yaitu batasan materi dan kualitas hasil belajar.
¨  Diawali dengan frase “Siswa mampu …”

INDIKATOR HASIL BELAJAR
¨  IHB memuat pernyataan-pernyataan yang merupakan AKTIVITAS-AKTIVITAS yang berkaitan dengan bagaimana cara agar hasil belajar tercapai.
¨  IHB berisi karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan telah mencapai KD tertentu.
¨   IHB dikembangkan dari KD

INDIKATOR HASIL BELAJAR
¨  Menggunakan kata kerja operasional dengan tingkat berfikir menengah dan tinggi
¨  Tiap KD dijabarkan menjadi minimal 2  atau lebih indikator
¨  Indikator yang ada dalam dokumen kurikulum harus dikembangkan kembali oleh guru yang dapat juga menjadi acuan/panduan/konstruk bagi guru dalam membuat rubrik penilaian.
¨  Dibawah ini adalah redaksional IHB yang berkaitan dengan KD

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Mengetahui, IHB:
¡  Menunjuk
¡  Menyebutkan
¡  Memasangkan
¡  Mengurutkan
¡  Menjawab pertanyaan pengetahuan, antara lain:
ú   Siapa
ú   Apa
ú   Kapan
ú   Di mana

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Memahami, IHB:
¡  Mendefinisikan/menjelaskan
¡  Menjawab pertanyaan
¡  menghitung
¡  Mencocokkan
¡  Menemukan/mencari/discover
¡  Mendengarkan
¡  Menentukan ciri-ciri/identifikasi
¡  Meneliti/menyelidiki/riset
¡  Menentukan letak/denah/bagian
¡  Mengamati/observasi
¡  Menceritakan kembali
¡  Memberi contoh
¡  Membandingkan

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Menerapkan, IHB:
¡  Melakukan/mempraktekkan
¡  Membuat daftar/list
¡  Menyusun/membuat/construct
¡  Mengajarkan/presentasi/teach
¡  Menggambar/paint
¡  Membuat bagan/sketch
¡  Memainkan/memerankan/manipulate
¡  Menginterview
¡  Melakukan percobaan/experiment
¡  Melakukan arsip/merekam/record
¡  Melaporkan/report
¡  Menciptakan ide baru/stimulate
¡  Mendemonstrasikan

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Menganalisa, IHB:
¡  Membuat kategori
¡  Melakukan klasifikasi
¡  Memisahkan sesuatu dari sesuatu/separasi
¡  Menemukan perbedaan mencolok/contrast
¡  Membandingkan/compare
¡  Melakukan pembedahan/dissect
¡  Menyatakan pendapat
¡  Melakukan penelitian/survey

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Mengevaluasi/menilai, IHB:
¡  Menilai/mengevaluasi sesuatu/evaluate
¡  Mempertimbangkan, mengkritik, mengadili/judge
¡  Melakukan perdebatan dalam membahas sesuatu/debate.
¡  Melakukan pembicaraan, perundingan menyelesaikan masalah/discuss.
¡  Membuat evaluasi dengan proses pengeditan terhadap sesuatu/editorialize
¡  Memutuskan solusi, aturan dan sistem/decide.
¡  Menganjurkan atau merekomendasikan sesuatu/recommend
¡  Memilih dari beberapa pilihan/choose.

INDIKATOR HASIL BELAJAR
  1. KD: Membuat/menciptakan/Merancang, IHB:
¡  Membuat karya cipta baru/invent
¡  Menggabungkan dua hal menjadi sebuah karya baru/combine
¡  Menyusun atau menstrukturisasi beberapa hal menjadi karya baru/compose
¡  Membuat pernyataan awal tentang solusi dari sesuatu masalah atau kondisi/hypothesize
¡  Membuat ramalan/perkiraan tentang akibat dari sesuatu kondisi yang terjadi/predict
¡  Melakuan penaksiran yang berkaitan dengan anggaran, langkah-langkah menciptaan sebuah aktivitas atau karya/estimate.
¡  Membuat produk yang mempunyai nilai guna dan nilai jual/produce.
¡  Mengkhayal dan membayangkan hal-hal yang baru/imagine
¡  Membuat karya tulis, baik formal maupun non formal/write

INDIKATOR HASIL BELAJAR
¨  Contoh Hasil Belajar
¡  Bidang studi: Matematika
¡  KD: Kemampuan mengenal  makna angka
¡  Indikator Hasil Belajar:
ú   Siswa mampu menunjukkan  jumlah benda sesuai dengan angka yang disebutkan.
ú   Siswa mampu menyebutkan  angka sesuai dengan jumlah yang disebutkan.
ú   Siswa mampu menjawab  soal pada buku … hal …
Materi Pembelajaran
¨  Diturunkan dari KD dan Indikator
¨  Biasanya berupa frase kata benda
Contoh :
IHB : Menjelaskan makna bilangan cacah sampai dengan 99.
Materi : 1. Bilangan cacah sampai 99.

A. Definisi
§  Penilaian otentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang     bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
§  Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi.
§  Istilah otentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel.
§  Secara konseptual penilaian otentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun.
§  Ketika menerapkan penilaian otentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.

B. Penilaian Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
§  Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
§  Penilian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain.
§  Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih otentik.
§  Penilaian otentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.
§  Penilaian otentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda,  benar–salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat.
§  Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran, karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik.
§  Penilaian otentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan  peserta didik.
§  Dalam penilaian otentik, seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.
§  Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi.
§  Pada penilaian otentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
§  Penilaian otentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar.
§  Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja.
§  Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
§  Penilaian  otentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek.
§  Penilaian otentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.
§  Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.

C. Penilaian dan Pembelajaran Autentik
§  Penilaian otentik mengharuskan pembelajaran yang otentik pula.
§  Menurut Ormiston, belajar otentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah.
§  Penilaian otentik terdiri dari berbagai teknik penilaian.    Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang ada.
§  Penilaian  otentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda.
§  Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif.
§  Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.
§  Dalam pembelajaran otentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah.
§  Guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas.
§  Penilaian otentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
§  Pada pembelajaran otentik, guru harus menjadi “guru otentik.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran otentik, guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut:

  • Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran.
  • Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
  • Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
  • Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah.

 D. Jenis-jenis Penilaian Autentik
1.     Penilaian Kinerja
2.     Penilaian Proyek
3.     Penilaian Portofolio
4.     Penilaian Tertulis

Penilaian Kinerja
  • Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dalam tema akulturasi budaya Hindu Budha, peserta didik bisa diminta untuk membuat tulisan: Bentuk Budaya Hasil akulturasi Hindu Budha; Toleransi dalam Kehidupan
  • Cara  merekam hasil penilaian berbasis kinerja:

1.     Daftar cek (checklist).
2.     Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
3.     Skala penilaian (rating scale).
4.     Memori atau ingatan (memory approach).

2. Penilaian Proyek

  • Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Peserta didik secara kelompok atau perorangan dapat diminta untuk melakukan penelitian sederhana berkaitan dengan situs sejarah yang ada dilingkungan mereka, yang dikaitkan dengan peran masyarakat dalam pelestarian peninggalan sejarah
  • Tiga hal yang  perlu diperhatian  guru dalam penilaian proyek:
  1. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
  2. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
  3. Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
 3. Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
            Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, kliping,  gambar candi, foto situs sejarah atau peristiwa sejarah, lukisan sejarah, resensi buku/ literatur kesejarahan, laporan penelitian sejarah, dan lain-lain.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
  1. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
  2. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
  3. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
  4. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
  5. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
  6. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
  7. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
4.     Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.


Penilaian Autentik K13: Instrumen Penilaian Sikap dengan Teknik Observasi
Panduan Pendeskripsian Rapor Pengetahuan
Penilaian sikap dengan teknik observasi adalah salah satu metode penilaian pembelajaran pada Kurikulum 2013. Seperti yang telah dibahas pada penilaian autentik, penilaian sikap tidak berdiri sendiri, namun terintegrasi dengan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini tentu saja mengakibatkan sikap yang akan dinilai disesuaikan mengikuti tujuan pembelajaran, yang dalam hal ini tentu terintegrasi dengan pengetahuan dan keterampilan.


Penilaian Sikap dengan Teknik Observasi Kurikulum 2013
Teknik penilaian sikap dengan observasi dilakukan dengan mengamati perilaku siswa dari awal hingga akhir pembelajaran.
Instrumen observasi menggunakan pedoman:
daftar cek (checklist), ataupun
  • skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik.
Daftar cek (checklist)
Daftar cek (checklist) digunakan untuk mengamati muncul atau tidaknya perilaku siswa. Daftar cek berisi  tabel yang berupa Muncul atau Tidak Muncul. Contohnya adalah sebagai berikut.

Observasi Sikap Spiritual
Nama Peserta Didik : …………….
Kelas: …………….
Tanggal Pengamatan: …………….
Subtema: …………….
No
Aspek Pengamatan
Dilakukan/muncul
Ya
Tidak
1
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu
2
Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan
3
Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi
4
Mengungkapkan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan
5
Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan

Observasi Sikap Jujur
Nama Peserta Didik : …………….
Kelas: …………….
Tanggal Pengamatan: …………….
Subtema: …………….
No
Aspek Pengamatan
Dilakukan/muncul
Ya
Tidak
1
Tidak mencontek dalam mengerjakan tugas atau ujian
2
Tidak melakukan plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber) dalam mengerjakan setiap tugas
3
Mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu dengan apa adanya
4
Melaporkan data atau informasi dengan apa adanya
5
Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki

Observasi dengan daftar cek (checklist) ini memiliki kelemahan berupa sedikitnya variasi jika dikonversikan ke dalam bentuk angka-angka. Observasi dengan tipe ini jarang digunakan .
Skala Penilaian (Rating Scale)
Skala Penilaian (rating scale) menggunakan rentang skala hasil pengamatan yang berupa
selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah
sangat baik, baik, cukup, kurang
Rentang pengamatan di atas tentu akan rancu kalau tidak disertai penjelasan bukan? Sikap dengan skala “selalu”, “sering”, “kadang-kadang”, ataupun “tidak pernah” tentunya perlu indikator yang menjelaskannya. Seperti apa sih siswa yang disebut sering melakukan sesuatu itu? Seberapa apa sih siswa yang disebut kadang-kadang melakukan sesuatu itu? Tentunya ini memerlukan indikator. Nah, Indikator itu pada penilaian kurikulum 2013 diberi nama RUBRIK. Rubrik merupakan petunjuk bagi penilaian skala ataupun daftar cek.
Untuk dapat mengolah data hasil penilaian tentunya diperlukan angka-angka bukan? Nah, data dari skala penilaian tadi diolah menjadi angka-angka dengan menggunakan petunjuk penskoran. Kurikulum 2013 menggunakan sistem penskoran dengan rentang 1 – 4, bukan seperti selama ini yang menggunakan rentang 1 – 10. Untuk lebih jelasnya mari kita simak contoh observasi dengan skala penilaian berikut ini.

Petujuk:
Lembaran ini diisi oleh guru. Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai dengan sikap spiritual siswa, dengan kriteria sebagai berikut:
4 = SELALU, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = SERING, apabila sering melalkukan sesuai pernyataan, dan kadang-kadang tidak melakukannya
2 = KADANG-KADANG, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan
1 = TIDAK PERNAH, apabila tidak pernah melakukan
Observasi Sikap Spiritual
Nama Peserta Didik : …………….
Kelas: …………….
Tanggal Pengamatan: …………….
Subtema: …………….
No
Aspek Pengamatan
Skor
1
2
3
4
1
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu
2
Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan
3
Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi
4
Mengungkapkan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan
5
Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan

Petujuk:
Lembaran ini diisi oleh guru. Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai dengan sikap sosial siswa, dengan kriteria sebagai berikut:
4 = SELALU, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = SERING, apabila sering melalkukan sesuai pernyataan, dan kadang-kadang tidak melakukannya
2 =  KADANG-KADANG, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan
1 = TIDAK PERNAH, apabila tidak pernah melakukan
Observasi Sikap Jujur
Nama Peserta Didik : …………….
Kelas: …………….
Tanggal Pengamatan: …………….
Subtema: …………….
No
Aspek Pengamatan
Skor
1
2
3
4
1
Tidak mencontek dalam mengerjakan tugas atau ujian
2
Tidak melakukan plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber) dalam mengerjakan setiap tugas
3
Mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu dengan apa adanya
4
Melaporkan data atau informasi dengan apa adanya
5
Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki

Format di atas adalah untuk per individu siswa. Kalau ingin dibuat secara secara klasikal bagaimana   format penilaiannya? Format penilaian siswanya adalah seperti berikut ini:

Observasi Sikap Spiritual
Kelas: …………….
Tanggal Pengamatan : …………….
Subtema : …………….
No
Nama Siswa
Skor dari aspek pengamatan poin ke-
Jumlah skor
1
2
3
4
5
1
Andi
2
Budi
3
Ceni
4
Dodo
5
Edwin
*Keterangan:
Poin-poin aspek yang diamati adalah
1. Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu
2. Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan
3. Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi
4. Mengungkapkan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan
5. Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan
Skor menggunakan rentang 1 – 4.

Pranala luar yang membahas penilaian adalah wikipedia. Silahkan Bapak dan Ibu jelajahi link ini: 

https://id.wikipedia.org.

Demikianlah bahasan tentang instrumen penilaian sikap dengan teknik observasi pada penilaian autentik kurikulum 2013. Semoga bisa membantu.



Continue Reading...

Sabtu, 11 Juni 2016

PENATARAN KURIKULUM 2013 DI SDN PASAR LAMA 1

Tidak ada komentar:









Continue Reading...

Rabu, 08 Juni 2016

Aktifitas Guru di SD Islam Sabilal Muhtadin

Tidak ada komentar:
Salah satu kegiatan guru SD Islam Sabilal Muhtadin dalam melaksanakan Kurikulum 2013 adalah melaksanakan Work Shop secara mandiri Guna meningkatkan SDM yang telah terprograom setiap Tri wulan. Misalnya mengintgrasikan Nilai-nilai Al-qur'an dalam kurikulum.




 
Prinsip Pembelajaran Kurikulum 2013 Ada Empat Belas
Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14 prinsip utama pembelajaran yang perlu guru terapkan.
Ada pun 14 prinsip itu adalah:
1.       Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk meberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyampaian informasi dari guru sebagai sumber belajar, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013 kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta tertentu. Oleh karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan alat bantu pembelajaran untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
2.      Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber; pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada siswa  sumber belajar seperti informasi dari buku siswa,  internet, koran, majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan masalah, atau inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
3.      Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
4.      Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
5.      Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. Semua materi pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama, agar beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban belajar berlebih yang kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
6.      Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; di sini siswa belajar menerima kebenaran tidak tunggul. Siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yangberjauhan, mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang awan itu, benar menjadi beragam.
7.      Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; pada waktu lalu pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan guru, fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya, gambarnya, videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat, meraba, merasa dengan panca indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca indra lainnya.
8.      Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku perkembangan sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan yang dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara, mendengar yang mencerminkan keterampilan berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan karya, sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun, keterampilan menghargai pendapat dan yang lainnya.
9.      Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan  dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat; ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk menyesusaikan dengan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global. Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang santun  merupakan aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam ruang lingkup global.
10.  10.    Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo),  membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); di sini guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, meberi contoh bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu mendorong semangat siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
11.  Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu dalam kelas.
12.  Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang sangat ideal untuk mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan sistem yang terbuka.
13.  Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka harus dapat menguasai TIK sebabab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada  siswa yang memeroleh pelajaran menggunakannya.
14.  Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi kelompoknya.


Continue Reading...

Senin, 30 Mei 2016

SENAM LANSIA KOMPLEK AMD PERMAI

Tidak ada komentar:
Continue Reading...

Rabu, 11 Mei 2016

Manfaat Field Trip untuk Anak

Tidak ada komentar:
Tujuan utama field trip adalah memberikan pengalaman belajar nyata kepada anak-anak. Karena itulah, biasanya field trip dirancang agar berkaitan dengan kurikulum atau kegiatan belajar anak di kelas. Sekolah biasanya sudah menetapkan tujuanfield trip, baik lokasi maupun hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut.

Continue Reading...

Jumat, 15 April 2016

WISATA SDI SM BANJARMASIN APRIL 2016

Tidak ada komentar:

Continue Reading...