Selasa, 08 Maret 2016

Pentingnya Pemeriksaan Mata Anak

Tidak ada komentar:
Pentingnya Pemeriksaan Mata Anak
Mendeteksi masalah penglihatan baik ringan atau berat sangat penting untuk memastikan anak-anak bisa menerima pelajaran dengan baik. Jangan sampai nilai si kecil di sekolah jeblok hanya gara-gara tidak bisa melihat materi pelajaran di buku atau di papan tulis. Di negara maju seperti Amerika Serikat, atas rekomendasi American Optometric Association setiap anak yang ingin bersekolah wajib melakukan pemeriksaan mata. Berikut penjelasan mengapa masalah kesehatan mata penting bagi anak.



Kenapa pemeriksaan mata sangat penting?
Saat masuk sekolah anak-anak harus siap segalanya termasuk kesehatan mata. Bisa jadi penglihatan anak Anda dirasa baik-baik saja. Tapi perlu diingat anak-anak mengalami pertumbuhan. Apakah penglihatannya tetap? Belum tentu. Penglihatan anak terus berkembang sejak si anak lahir. Fokus dan gerakan mata anak terus tumbuh selama 6 bulan pertama. Pemeriksan mata wajib dilakukan pada usia 3 tahun. Nah, saat anak mulai masuk usia sekolah pemeriksaan mata sangat vital untuk mengetahui apakah mereka bisa melihat dengan jelas atau tidak. Ingat, gejala penglihatan pada anak sangat halus bahkan hampir tidak terdeteksi. Biasanya tidak sampai usia sekolah gejala penglihatan sudah bisa terlihat.

Kemana harus memeriksakan mata?
Pemeriksaan mata bisa dilakukan di dokter anak, puskesmas, atau di sekolah tempat si anak belajar. Fakta menunjukkan, anak yang rutin memeriksa mata biasanya tidak punya masalah serius pada penglihatan. Jika ada masalah penglihatan pada anak di bawah usia 5 tahun segera bawa ke dokter spesialis mata. Orang tua perlu selalu diingatkan untuk melakukan pemeriksaan rutin mata sebelum si anak masuk sekolah.

Anak saya belum bisa melihat objek berjarak 6 meter
Penglihatan berubah secara berkala karena tubuh anak-anak beradaptasi. Anak mungkin punya penglihatan yang normal tapi jarak pandangnya belum sampai 6 meter saat masuk taman kanak-kanak (TK). Penglihatan si buah hati baru akurat saat usianya 5 tahun. Jarak pandang anak TK baru sekitar 3 sampai 4 meter. setelah ia kelas 1 SD penglihatannya baru akan sekitar 6 meter. Yang terpenting buat anak TK, ia bisa bergaul dan menerima pelajaran dengan baik sesuai dengan usianya.

Apa itu pemeriksaan mata menggunakan tumbling E?
Orang dewasa menggunakan tes mata bervariasi, Sementera anak-anak biasanya menggunakan tes mata yang disebut tumbling E, dimana huruf E berada paling atas dan dicetak besar. Tes mata ini digunakan karena anak-anak biasanya belum bisa membaca. Tes ini tidak membuat si anak bingung dan huruf-huruf yang digunakan disusun teratur. Tes kesehatan anak yang lengkap mencakup tes kesehatan mata, dimana tes mata menggunakan tes tubling E. Hasil tes akan menilai apakah mata si anak bekerja dengan baik dan bisa melihat dengan jelas.

Apa itu Amblyopia?
Amblyopia (penyebab kehilangan penglihatan pada anak) atau lebih dikenal dengan dengan lazy eye terjadi karena saat satu mata tidak berkembang dengan baik. Karena sebelah matanya berkembang terlalu pesat, mata yang satunya mungkin tidak berkembang hingga terjadi Amblyopia. Kehilangan penglihatan secara permanen mungkin terjadi karena otak si anak beradaptasi dengan mata yang tidak berkembang. Kondisi ini biasa terjadi pada anak usia 3 sampai 6 tahun. Jika ada masalah penglihatan pada anak segera pakaikan kacamata. Menurut Dr. Hsueh, jika Amblyopia ditangani pada usia 5 -6 tahun maka kebutaan tidak akan terjadi.

Bagaimana memastikan penglihatan anak saya sehat?
Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga perlu penglihatan yang sempurna. Buat anak cukup jaga makanannya dan pastikan waktu tidurnya tercukupi. Dengan kesehatan yang sempurna anak-anak tidak akan terganggu penglihatannya. “Jika anak kurang sehat mereka akan susah untuk konsentrasi, sering merasa pusing dan mungkin penglihatannya akan terganggu. Mata dikendalikan oleh otot yang membutuhkan istirahat dan nutrisi yang cukup,” kata Dr. Gable.
Sumber : http://parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=kids&id=540

Perhatikan Kesehatan Mata Anak Sekolah
 “Bunda, kalau di sekolah, sekarang aku lebih suka duduk di depan.”
Mendengar perkataan ini boleh jadi orangtua akan merasa bangga dengan kebiasaan baru anaknya. Duduk di barisan bangku terdepan identik dengan anak yang rajin dan antusiasme belajar tinggi, tentunya ini kabar baik bagi orangtua. Akan tetapi, bisa saja kebiasaan baik itu terjadi karena penglihatan si anak mulai terganggu.
Gangguan fungsi penglihatan merupakan masalah kesehatan yang serius. Mengapa? Karena terganggunya proses melihat dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup seseorang. Bahkan, setiap tahunnya badan kesehatan dunia (WHO) memperingati hari penglihatan sedunia yang jatuh pada hari kamis minggu kedua bulan Oktober.
Tidak hanya pada orang dewasa, gangguan melihat juga dapat terjadi pada anak-anak, khususnya anak usia sekolah dasar. Mereka seringkali tidak menyadari bahkan mengabaikannya. Oleh karena itu, diperlukan peranan aktif dari petugas kesehatan, orangtua, guru, dan teman sebaya untuk screening awal terhadap kemampuan penglihatan.
Kebutaan Indonesia Tinggi
Sejak tahun 1996, persentase penderita kebutaan di Indonesia masih berada pada angka 1,5%. Ini merupakan angka kebutaan terbesar di wilayah Asia Tenggara, sebanding dengan negara di sub-sahara Afrika. Kebutaan disebabkan oleh berbagai kelainan/penyakit pada mata, antara lain katarak (baik sejak lahir, proses penyakit, atau penuaan), glaukoma, kelainan refraksi, dan gangguan metabolik seperti kencing manis dan tekanan darah tinggi. Padahal, 80% kasus kebutaan bisa dicegah.
Penyebab tersering kebutaan adalah katarak, kebutaan pada anak, dan gangguan refraksi (WHO, 2011). Di Indonesia, dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun), 10% mengalami gangguan akibat kelainan refraksi. Angka pemakaian kacamata koreksi pun masih rendah, yaitu 12,5%.
Tentu ini menarik untuk diperhatikan. Apabila tidak ditangani secara sungguh-sungguh, hal tersebut bisa berpengaruh pada perkembangan kecerdasan anak. Proses belajar anak yang terhambat dapat mempengaruhi mutu/kualitas, kreativitas, dan produktivitas pada usia produktif kelak (15-64 tahun).
Oleh karena itu, masalah penglihatan tak semata menjadi tanggung jawab pelayanan kesehatan, tetapi juga pemerintah dan masyarakat secara umum. Orangtua misalnya, perlu memperhatikan apakah anaknya menunjukkan gejala penurunan tajam penglihatan. Contohnya gejala tersebut di antaranya menonton televisi dengan jarak dekat, anak kesulitan membedakan warna, memicingkan mata bila melihat sesuatu, atau pandangan mata tidak lurus kedepan.
Libatkan Dokter Kecil
Setiap tahun, terutama setelah masa penerimaan siswa baru, petugas dari Pusat Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) biasanya mengadakan program kesehatan anak sekolah bagi siswa baru, baik untuk tingkat SD, SMP, maupun SMA. Tujuannya untuk menemukan anak yang gizinya kurang baik, anemia, atau dengan gangguan penglihatan. Namun karena bukan termasuk dalam program wajib, tidak semua Puskesmas memiliki program tersebut.
Screening (pemeriksaaan) awal terhadap kemampuan penglihatan dapat dilakukan dengan sederhana. Cukup dengan membaca kartu Snellen yang berjarak 6 meter, seseorang dapat diketahui ada tidaknya gangguan penglihatan. Tajam penglihatan optimal (6/6) menunjukkan bahwa anak dapat melihat huruf pada kartu Snellen yang berjarak 6 meter, yang juga dapat dibaca oleh anak dengan penglihatan normal. Jika ada murid dengan tajam penglihatan tidak 6/6, ia harus segera dilaporkan serta dirujuk ke Puskesmas atau dokter ahli mata.
[Snellen Charthttp://en.wikipedia.org/wiki/Snellen_chart]
Penyebab paling umum gangguan mata pada anak usia sekolah di antaranya mata silindris (astigmatisme), miopi, dan mata malas (ambliopi). Masyarakat Indonesia cenderung memiliki kelainan refraksi karena adanya faktor genetis. Idealnya, pemeriksaan penglihatan dilakukan setiap 6 bulan.
Karena prosesnya sederhana, dokter kecil dapat dilibatkan dalam proses penjaringan kasus. Siswa yang menjadi dokter kecil dituntut untuk lebih peduli terhadap teman sebayanya. Misalnya dengan memperhatikan adakah temannya yang memiliki kebiasaan-kebiasaan orang dengan penurunan fungsi penglihatan. Selain itu, mereka pun dapat dilibatkan dalam pemeriksaan dengan kartu snellen. Harapannya, deteksi anak dengan gangguan penglihatan dapat lebih cepat dan ditangani dengan baik.
Penulis:
Almahira Az-Zahra, Dokter, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.
Kontak:
 http://mylearningissue.wordpress.com
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Kampus, Harian Pikiran Rakyat, Oktober 2012. Dituliskan ulang di majalah 1000guru dengan izin penulis disertai beberapa perubahan kalimat dan penambahan gambar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar